Petualangan ke Pulau Kalong dengan Sepeda - Berita Feature Generasi Muda

Petualangan ke Pulau Kalong dengan Sepeda

Sepedaku meluncur tidak begitu kencang, sesekali rem kumainkan di aspal cor jalan menuju Pantai Jungwok. Kaki rasanya mau lepas, napas terengah-rengah, keringat mengucur deras. Baju basah kuyup. Untungnya udara di sana begitu segar, semilir angin pun menambah kesejukan. Rodaku berhenti tepat di parkiran 16, Pantai Greweng, Sedahan, dan Bukit Kalong.

Pulau Kalong
Pulau Kalong | Foto Asmara Dewo
Seorang mbah berkulit hitam legam dengan beberapa giginya sudah lepas menyambut. Perawakannya kecil, namun masih gesit. Wajah mbah itu tampak heran ketika ada pengunjung yang bersepeda mampir di parkirannya, biasanya memang hanya mobil dan motor.

Aku langsung duduk, mengambil napas, mengistirahatkan badan.

“Kok, naik sepeda, Mas?” tanya mbah. Sebenarnya aku parkir di sini yang kedua kalinya, jadi cukup kenal Mbah Soro itu. Hanya saja beliau tidak kenal aku. “Sendiri aja?” tanya mbah lagi.

“Iya, Mbah, sendiri aja,” aku mengangguk, “naik sepeda.”

Mbah terpelongo, seakan tak percaya, “Dari Wonosari?”

“Nggak, Mbah, aku dari Jogja,” jawabku setelah meneguk air berkali-kali.

“Waduh-waduhhh,” kepala mbah menggeleng.

Bangunan parkiran itu terbuat dari kayu dan beratapkan seng. Halamannya cukup luas untuk menampung mobil dan motor. Pada sisi selatan, lahannya ditanami berbagai tumbuhan, ada cabe rawit, singkong, rimbang, pohon pisang, dan masih banyak lagi tumbuhan lainnya.

Di sela oborolan kami burung perkutut mbah di sarang turut berkicau, sesekali ayam jantan berkokok panjang. Anak-anak ayam yang masih  kecil mengikuti induknya kemana pun pergi. Dari belakang dapur suara kambing kecil mengembek tiada hentinya.

13 Februari 2019, tentu saja ini menjadi salah satu tanggal berkesan di dunia travelingku. Mungkin orang tidak akan percaya jika aku bersepeda sampai sejauh ini. Dari bibir Pantai Jungwok ke parkiran Mbah, sekitar 300 meter. Itu artinya mengayuh sepeda MTB sejauh 78 KM kalau dilihat dari google map. Cukup jauh memang. Capek? Pasti!

“Mas, mau timun?” Mbah tampak serius menawarkan timun. Dia menunjuk  ke arah timun yang berada di lahannya, “kalau makan timun  hausnya cepat hilang. Enak, lho, Mas.”

“Mau, Mbah, “aku mengangguk. Siapa juga yang bisa menolak makan timun suri di kondisi panas dan hausnya yang nggak hilang sejak tadi. Padahal sudah berliter-liter air minum habis kuteguk sejak dalam perjalanan tadi

Mbah buru-buru ke lahan yang hanya beberapa meter dari tempat duduk parkiran itu. Setelah dipotong, mbah menyuguhkan di atas meja. Tanpa disuruh lagi aku langsung menyantap timun suri itu. Wihh… rasanya.

“Enak, Mbah, enak.”

“Ya, iya,” sahut Mbah.

Kami mengobrol ngalur-ngidul, mulai dari kegiatan di Yogyakarta, kampung halaman, sampai mengobrol pertanian di Gunungkidul. Berdasarkan penuturan Mbah, kendala pertanian di sini adalah air. Karena itu pula pada musim hujan, petani di sini memanfaatkan cuaca untuk bercocok tanam, seperti menanam padi, kacang, jagung, dan lain-lain.

Mbah Soro, selain bertani, menjaga parkir, memasang jaring burung, beliau juga rajin memancing ikan atau memasang jaring untuk menangkap lobster. Nah, untuk menangkap lobster ini mbah memasangnya pada sore hari, kemudian esok pagi dilihat kembali.

“Dapat nggak, Mbah?”

“Kadang dapat, kadang juga nggak dapat. Tergantung Gusti beri rezekinya,” Mbah tertawa, giginya yang tidak utuh terlihat.

Ya, sepertinya warga di pesisir samudera hindia ini memang benar-benar memanfaatkan alam untuk bertahan hidup dan mengais rezeki.

“Mas ini mau ke pantai mana?”

“Mau ke Pulau Kalong, Mbah. Buka nggak?”

“Nggak tahu, Mbah, kalau Pulau Kalong. Kalau Pantai Greweng, Sedahan, Nampu, ya, buka saja.”

Kulihat jam di smarphone pukul 14.15 WIB, tanpa mengulur waktu lagi, ransel kunaikkan ke pundak. Kulihat air minum masih setengah lagi. Sebelum memasukkan ke kantong tas, mbah menawari untuk mengisinya, aku penuhi saja permintaannya.

Sepeda
Sepeda yang dibawa bertualang | Foto Asmara Dewo

“Mbah, titip sepeda, ya?”

Mbah mengangguk. Sebelum aku melangkahkan kaki Mbah Soro bertanya, “Mas ngecamp atau nggak?"

“Pulang sore ini, Kok, Mbah.”

“Oh, iya, hati-hati.”

Hari sudah tidak begitu panas lagi, angin pantai di sekitar sini memang sudah terasa. Sejuk. Menuju ke Pantai Jungwok memang tidak terlalu jauh, dari prakiran mbah, sekitar 16 menit. Jauhnya kira-kira satu kilometer. Selain tanaman warga yang sudah kusampaikan tadi, perkebunan tebu juga ada, dan cukup luas.

Setapak demi setapak jalan kulalui, rasa lelah berkurang dan haus sekekita hilang. Sepanjang jalan aku sering melihat kandang lembu. Lembu-lembu itu melenguh. Begitu juga kambing yang mengembek panjang. Sepertinya ini jam makannya, karena itulah hewan-hewan ternak tersebut seperti memanggil tuannya untuk disuapi rumput.

Di tengah jalan terdapat batu-batu menjulang tinggi. Ternyata tidak pohon saja menjulang tinggi. Dari teksturnya batu itu tampak kokoh sekali. Bahkan kupikir ini seperti hutan batu, karena saking banyaknya batuan tersebut. Selain itu, sudut batunya juga tajam. Aku melangkah dengan hati-hati.

Sampailah aku di salah satu dataran tinggi, boleh dibilang seperti bukit. Nah, dari sini aku mulai melihat luasnya samudera hindia. Warnanya agak kebiruan. Pada tepi pantai dibentengi bukit-bukit yang ditumbuhi pepohonan dan rerumputan. Bukit hijau itu nyaman dipandang. Angin sore pantai semakin menggoda menarikku agar lebih dekat lagi. Baiklah, aku turuni tangga bukit yang curam ini menuju Pulau Kalong.

Pada persimpangan jalan, aku menuju ke arah selatan, menuju ke Pulau Kalong dan Pantai Greweng. Nah, kalau ke timur itu menuju rute Pantai Sedahan dan Nampu. Aku mempercepat kaki melangkah, tak sabar ingin menjejakkan kaki yang kedua kalinya di Pulau Kalong. Deburan ombak Greweng terdengar hebat, buih-buihnya berserakan di permukaan. Letaknya diapit dua bukit yang menjulang tinggi, jadi Pantai Greweng itu seperti teluk.

Kaki yang kuinjak sudah pasir putih. Tidak begitu ramai, pengunjung saat itu hanya beberapa orang saja, mungkin karena bukan akhir pekan. Warung ada yang buka, tapi aku tidak singgah. Kalau menuju ke Pulau Kalong, harus menaiki bukit di sebelah timur Pantai Greweng, tepatnya dari belakang warung.

Tali ransel dikuatkan lagi, mengatur napas. Dan aku siap memuncak dengan mantap. Kaki kecil ini melangkah hati-hati melewati bebatuan tajam nan terjal. Perlahan tapi pasti, tak terasa posisiku sudah berada di ketinggian. Sampailah di puncak tertinggi. Dari atas sini aku menyapu seluruh pemandangan, terutama di bagian barat. Ternyata melihat pantai dari atas itu lebih eksotis. Kita bisa melihat garis dan lekukan pantai. Buih putih berserakan di tepian pantai terlihat unik. Deburan ombak juga masih terdengar dari sini.

Pulau Kalong
Jembatan penyerbrangan ke Pulau Kalong | Foto asmarainjogja.id
Setelah berhenti sejenak aku melangkah lagi mengikuti setapak jalan menuju Pulau Kalong. Jalan yang kulaui ini selain untuk traveler juga jalur warga yang memancing. Bukan rahasia umum lagi sebenarnya area pantai selatan surganya bagi pemancing mania.

Kini aku sudah berada di titik tengah bukit, Pulau Kalong terlihat jelas. Jembatan gantung masih menancap di antara daratan yang terpisah itu. Aku berjalan lagi mendekati “pintu masuk” penyeberangan yang diselimuti hutan pandan berduri. Semak belukar di kiri-kanan, dan hanya ada jalan satu-satunya menuju ke sana. Oh, sial… setelah sampai, “pintu masuk” itu digembok.

“Mana mungkin pula aku rusak gembok itu lalu menyelinap masuk?” ucapku dalam hati.

Tiada seorang pun di sana. Ini artinya Pulau Kalong tidak boleh dikunjungi traveler. Karena sudah terlanjur sampai, aku coba cari jalan lain menuju penyeberangan. Beberapa menit kemudian setelah berputar-putar di area itu, hasilnya nihil. Satu-satunya jalan masuk menuju penyeberangan melalui pagar yang digembok tersebut.

Ada rasa kecewa sebenarnya karena tidak bisa menyeberang ke Pulau Kalong. Tapi apa boleh buat, akses ditutup, aku hanya bisa menatap pulau itu dari kejauhan. Sebenarnya tidak ada perubahan dengan Pulau Kalong secara drastis, namun entah kenapa saat itu aku ingin sekali menjejakkan kaki di sana untuk yang kedua kalinya. Apalagi melewati jembatan gantung yang bergoyang itu saat dilalui, wih… itu sensasinya luar biasa.

Bayangkan kaki kita melangkah di papan-papan yang yang bolong, dan di bawah sana ombaknya luar biasa ganas. Bahkan sampai menjilat-jilat kaki kita melangkah. Dulu aku begitu saat pertama kali menuju Pulau Kalong.

Agar tidak begitu kecewa, aku menuju tepian jurang menikmati alam yang baik ini. Di situlah aku beristirahat sembari menatap luasnya pantai. Sejauh mata memandang, hanya garis samudera hindia yang terlihat. Angin berembus kencang. Ombak derdebum keras menghantam karang. Buihnya berserakan tanpa arah. Begitu terus berulang-ulang.

30 menit kemudian aku bersiap-siap turun. Sebelum melangkah jauh, ada beberapa pemancing mania di tepi jurang melemparkan kailnya. Karena terlalu jauh, aku tidak menghampirinya, padahal aku cukup penasaran dengan cara mereka memancing. Apakah memancing di pantai dari tebing cadas itu bisa mendapatkan ikan? Tapi terpaksa disimpan dulu penasaran itu, aku harus bergegas mandi di Pantai Greweng. Jangan sampai pula aku kemalaman pulang ke Yogyakarta.

Bertualang sendiri memang terasa sepi, tidak ada teman yang bisa diajak bicara atau bercanda. Namun ada bagusnya juga, misalnya belajar mandiri untuk memanajemen semua petualangan itu, dan tentu saja tidak terlalu repot kalau bersama teman. Meski begitu petualang tunggal akan menanggung semua beban di pundak. Nah, itulah seni dan pengalaman yang tidak mungkin didapatkan dari petualang lainnya yang suka menjelajah secara bergerombol.

Tak terasa aku sudah menuruni bukit. Kaki memang terasa pegal, tapi deburan ombak itu terus mengalihkan rasa capek yang kuderita.

Ibu pemilik warung menyapa lembut, “Mampir dulu, Mas.”

“Terimakasih, Bu,” kubalas tak kalah lembut, sembari menundukkan kepala, “buru-buru, Bu, soalnya mau cepat pulang.

Ibu itu mengangguk tersenyum.

Pantai Greweng | Foto Asmara Dewo
Sisa pengunjung tak banyak, paling sekitar enam orang saja. Baguslah, setidaknya aku lebih leluasa bermain ombak Pantai Greweng. Tanpa harus lama-lama lagi, ransel kulempar di atas pasir putih. Aku lari-lari kecil menyambut gulungan ombak kecil. Airnya cukup dingin, dan tentu saja segar. Sebenarnya tidak bisa berenang di sini karena banyak karang, aku hanya mencelupkan badanku secara penuh. Sesekali memainkan air layaknya anak kecil.


Airya juga jernih, jadi bisa melihat ikan-ikan kecil yang menari mencari makan di dasar pantai. Rerumputan laut bergerak tenang saat ada gelombang yang cukup kencang. Ikan kecil di sekitarnya seolah tak merasa ada gangguan, mereka fokus memakan rumput.

Sesekali ombak tinggi menggulung menyapu “teluk” ini, meskipun tidak begitu kencang, tapi itu cukup menggeser badanku ke tepian. Aku senang sekali, bahkan terus menunggu ombak yang tidak begitu besar. Kusisir pemadangan di darat, ternyata pengunjung satu per satu sudah pulang. Langit memang terlihat sore. Aku memuaskan diri lagi berendam air asin ini.

Semakin sore, aku terpaksa menyudahi nostalgia dengan Pantai Greweng dan Pulau Kalong. Aku menepi mengambil ransel dan pergi meninggalkan surga yang terpencil ini. Dengan pakaian basah kakiku cepat melangkah sebelum dijemput petang.

Nama Penulis: Asmara Dewo

Instagram: @asmaradewo

Facebook: Asmara Dewo

Artikel ini telah tayang di Reddoorz.com dengan judul Bukan Traveling Biasa, Bersepeda ke Pulau Kalong

0 Komentar untuk "Petualangan ke Pulau Kalong dengan Sepeda"

Back To Top