Karena Bukan Hitler - Berita Feature Generasi Muda

Karena Bukan Hitler

Oleh: Asmara Dewo

Sesaat aku pernah lupa wajahmu
Pernah lupa senyummu
Pernah lupa tawamu
Pernah lupa candamu

Tapi.. itu hanya sesaat
Dan waktu yang bergulir mengingatkan lagi semua tentangmu

Tentang kita…
Tentang perjalananan kita
Tentang pendakian kita
Tentang semua jejak yang pernah kita lewati bersama

Puncak Sinabung menjadi saksi kaki kita pernah melangkah di sana
Pada langit pagi, sunrise menghangatkan kita
Sekaligus menjadi cahaya perkenalan
Cahaya itu ternyata tak pernah padam

Baru kusadari arti dari kekuatan surya

Pendakian itu mengajarkanku arti dari perjuangan
Jika ingin meraih sesuatu meski diawali langkah-langkah kecil
Kesabaran juga diuji agar tidak buru-buru ingin mendapatkan sesuatu
Tenang… setenang Lauh Kawar

Rumus sederhana itu ternyata tidak bisa diterapkan di dunia cinta
Siapa cepat dia dapat!
Seperti pakaian yang diobral di mal-mal besar saat lebaran
Cinta pun tampaknya demikian, punya uang sekoper datangi keluarganya
Nego-nego dikit, semua jadi beres! Deal! Tentukan hari pernikahan

Kesimpulannya, cinta dan pernikahan tidak serumit sebagian orang pikirkan

Sedihnya, lelaki ini di barisan kaum yang rumit
Rumit karena hidupnya sendiri
Rumit karena cintanya yang dibuatnya rumit
Ya, kalau dipikir-pikir cinta memang rumit

Baiklah, pada malam yang akan berganti pagi ini
Aku tak leluasa mengungkapkan apa yang kurasa
Jika boleh kupinjam judul lagu Andmes, Hanya Rindu
Cobalah dengarkan!

Meskipun lagu keren itu mungkin untuk ibunya
Namun entah kenapa imajinasiku padamu
Ada juga, sih, aku mengimajinasikan ke ibuku
Hanya saja lebih kuatnya ke kamu
Maaf, Mak… (bukan bermaksud tidak rindu)
Mau lihat foto
Takut sakit
Mau stalking akun medsos
Takut sakit

Sungguh, sampai detik ini belum kuat

Dan sungguh pula, aku siap berhadapan dengan siapa saja di atas bumi ini
Meskipun bahaya yang mengancam
Meskipun ditertawai dunia
Meskipun mempertaruhkan harga diri

Aku belum siap!
Mau menelfon apa lagi!

Aku coba berandai-andai
Jika kutelpon pembicaraannya seperti apa, ya?

Aku, “Hallo!”
Kamu, “Iya, hallo juga! Siapa, ya?”
Aku, “Oh, lupa, ya? Ini aku,” aku sebutin nama yang biasa kaupanggil
Kamu, “Apa kabar sekarang? Di mana?” dan basa-basi lainnya.
Lalu seorang di sampingmu mulai curiga, “Siapa, Yang?”
Suara gugupmu terdengar sampai ke sini
Beberapa detik kemudian telpon kita terputus
Tuttt… tuttt..

Jadi serba salah
Mau berdamai takutnya merusak hubungan
Diam seperti ini disakiti keadaan dan masa lalu
Maju melangkah ada bayanganmu
Berhenti, ditabrak ojek online yang ugal-ugalan
Untung saja tidak dibegal

Motivator cinta seperti Tereliye
Sebagaimana sabda-sabda cintanya di quotes yang tersebar di akun media sosial
Dengan mudahnya menyimpulkan jika tidak bersama dengan yang kita cintai berarti itu bukan jodoh kita
Toh, masih banyak cewek di dunia ini
Sibukkan saja diri dengan rutinitas mengejar impian

Memang ada benarnya
Yang aku pertanyakan, memangnya Tereliye pernah mengalami cinta yang rumit?
Pernah ditinggal menikah dengan perempuan yang dicintainya?
Jika tidak pernah, quotesnya hanya omong kosong
Tak ubahnya seperti si salam super

Sejak pernikahan itu, yang aku tahu hanya lewat foto pernikahan di Instagram
Aku putuskan tidak pernah mengamalkan lagi sabda Tereliye
Persetan dengan segala nasihat baiknya
Persetan jika itu merupakan nasihat yang membawanya ke surga
Yang jelas karena dia aku menderita, kecewa, marah
Andai aku Hitler, maka aku pastikan pasukanku menjemputmu

Adolf Hitler | Foto History.id
Dan andai aku Hitler, siapa saja yang menghalangi cintaku akan dibinasakan
Mengerikan
Ya, memang mengerikan
Sadis
Ya, memang sadis
Tidak manusiawi
Ya, memang tidak manusiawi

Cinta lebih kejam dari itu semua
Kalian tidak percaya?
Atau menganggapku berlebihan?
Silahkan saja dengan pendapatnya masing-masing

Meski begitu…

Tuhan, sepertinya punya cerita lain untukku
Aku percaya itu
Aku tunggu
Meskipun di lain waktu
Dengan perempuan yang dititipkan kepadaku

Hitler tentu saja tidak dilahirkan kedua kalinya ke bumi

Aku adalah aku
Lelaki yang punya prinsipnya sendiri mengamalkan cinta
Tidak perlu memakai senjata
Tidak perlu memakai harta pusaka
Tidak perlu dengan pangkat dan jabatan

Karena cinta manusia hanya dipertemukan dengan cinta yang tulus
Boleh tidak percaya
Boleh menghina
Silahkan bagi kalian yang tidak setuju

Ini sajak penyemangat jiwa
Penguat hati yang lara
Untuk menjemput impian di masa tua
Bersama si dia yang belum ke KUA

Yogyakarta, 23 Januari 2020

Baca juga sajak lainnya:
Sabda Tereliye
0 Komentar untuk "Karena Bukan Hitler"

Back To Top