Sabda Tereliye - Berita Feature Generasi Muda

Sabda Tereliye


Oleh: Asmara Dewo

DN, kau tahu kenapa aku pernah tak mengamini ucapanmu?
Karena aku tahu masa depan tidak harus di Negeri Sakura
DN, kau tahu kenapa aku memilih diam?
Karena aku tak ingin ada yang tersakiti
Lagi… lagi… dan lagi…

Kala itu kau masih hijau
Di mana pikiranku saat itu sudah menua
Jejak langkahku tak lagi buru-buru
Pelan merayapi bumi agar sedikit bahagia
Ya, sedikit bahagia

Di antara kau dan aku
Ada perempuan lain yang singgah
Aku juga tidak tahu, singgah atau berlama-lama
Yang kupahami ada harapan yang bertumpuk di sana

Di kala kau masih remaja
Cinta itu telah tumbuh
Hidup, berdaun, berakar kuat, bercabang
Rimbun daunnya
Sampai saat ini menjulang tinggi

Apakah ada yang bisa membunuhnya?
Tidak bisa! Dan tidak akan pernah bisa
Sudah kusampaikan, pohon itu beranak-pinak, walau tak diurus tuannya
Ia terlanjur tumbuh, DN!

Kau lelah?
Aku juga lelah
Dia juga lelah
Tapi setidaknya, kau yang menyerah

Apes, DN…
Hidupku sial
Aku tak hanya menuntutmu
Aku juga menggugat Tuhan
Dan membenci sabda Tereliye
Kau kenal Tereliye?
Sabdanya yang paling sohih ialah cinta itu melepaskan
Ketika sabda itu diamalkan, maka umatnya mengalami penderitaan
Penderitaan yang berkepanjangan
Tak seorang pun yang tahu kapan penderitaan itu menemukan kebahagiaan

Novelis Tereliye | Foto asmarainjogja.id

Itu sabda Tereliye yang kuamalkan
Sabda yang mengantarkanku ke jurang nestapa
Sabda yang membuat hatiku rontok
Sabda yang mungkin kukenang sampai di usia senja

Novelis sialan itu hanya menghibur pembacanya
Novelis yang bermodal kata-kata dalam tulisan
Novelis yang paling sok hebat se-Indonesia
Novelis cinta yang membuat pecinta menjadi pesakitan

Hidup ini tak seindah kisah cinta Tegar dan Rosie
Kisah cinta yang tak terucapkan, tapi berakhir pula di pelaminan
Hidup ini tak seindah daun yang jatuh tak pernah membenci angin
Karena aku membencimu setengah mati

Hatiku tak sekuat tegar di karang yang menunggu mawar
Karena tak mungkin mawar tumbuh di atas karang
Kau percaya mawar tumbuh di karang?
Jika kau percaya, mungkin kau Rosie, aku Tegar. Tapi sayang, itu hanya novel fiktif karangan Tereliye

Jika berandai-andai, si dia mau tak mau harus menghilang dari kehidupanmu
Lalu menjemputmu dengan statusmu yang berbeda
Anak-anakmu beriringan menggenggam erat tanganmu, mengantarmu ke hadapanku
Lalu perempuan lain tersakiti. Sadis!

Aku jadi bertanya-tanya
Kenapa di antara kebahagiaan, ada pula penderitaan?
Kita bahagia, tapi ada yang menderita
Kita berpesta, tapi ada yang meneteskan air mata

Kau bisa jawab?
Aku yakin tidak!

Kuceritakan kau sebuah kisah
Dulu ada anak manusia yang saling mencintai
Segenggam cinta di masa remaja
Seiring waktu mereka berjauhan
Putus komunikasi, terpisah oleh jarak dan waktu
Di kemudian hari, si perempuan menikah dengan lelaki lain
Kau bisa menebaknya, apa yang dilakukan si calon pengantin perempuan?
Aku yakin tidak! Karena kau perempuan dungu, tak tahu etika cinta
Calon pengantin perempuan itu sebelum ijab kabul, menelpon lelaki yang pernah ia cintai dulu
Dua jam sebelum ia sah menjadi istri lelaki lain, ia meminta izin pada lelaki yang pernah dicintainya dulu
Tentu saja si lelaki itu turut bahagia, mengizinkan si perempuan memilih pasangan hidupnya
Kisah cinta mereka usai
Si perempuan akhirnya di pelaminan dengan lelaki lain
Dan lelaki kita ini masih mengarungi kehidupannya
Menjemput mimpi-mimpi
Yang ingin kusampaikan padamu adalah, dia… perempuan yang tahu etika cinta
Dia menyelesaikan urusan cintanya dengan terang benderang
Tuntas!
Nah, kau?!
Mungkin kau menganggap semua ini telah usai
Mungkin dengan kau diam-diam naik ke pelaminan
Kisah cinta bisa dimatikan
Tidak, DN! Tidak!
Kisah itu berlanjut, jauh-jauh di kemudian hari
Ini bukan kisah cinta di film India
Yang menangis mengharu biru sebelum mengelilingi api suci
Bernyanyi dan menari di akhir cerita
Ini kisah nyata, senyata aku menggengam cinta

Banyak kusaksikan dalam hidup ini
Orang-orang memilih hidup sendiri sampai mati
Mereka membawa hati yang tersakiti
Dan akhirnya mengadu pada Illahi
Aku belum putuskan, apakah menjejaki sang pecinta yang demikian
Atau mengambil jalan lain, menuju pelaminan
Yang jelas tidak seperti Romeo dan Juliet yang berakhir di kuburan
Lelaki ini tidak pengecut, tetap berdiri kokoh menapaki kehidupan

Jika kau membaca semua kata-kataku ini
Kira-kira apa yang kau lakukan?
Menelponku? Atau cuma mengirim pesan? Mengabarkan, maaf tidak mengundang
Mungkin mengadu pada lelakimu
Atau apa?

Pun kalau suatu hari nanti kita berjumpa
Kupastikan kita baik-baik saja
Menyapamu dengan ceria
Bertegur sapa dengan suami tercinta
Dan menggendong anak-anakmu yang lucu
Membisikkannya, kau punya ibu yang cantik, baik hati, suka naik gunung, mencintai alam, punya mimpi yang besar, dan romantis

Baik, kehidupan harus tetap berjalan
Aku terus berjuang dalam hidupku
Rajutlah cintamu, sekuat-kuatnya
Berbahagialah di sana, bersama lelaki pilihanmu. Selamat!

Jika boleh aku meminta untuk yang terakhir kalinya
Aku ingin tahu apa sebenarnya yang terjadi?
Benar, cinta itu adalah pilihanmu sendiri?
Benar, bahwa kau mencintainya segenap jiwa ragamu?

Aku tahu etika cinta, tidak etis berkirim pesan pada istri orang lain
Tapi aku seorang penulis, bisa membaca sebuah cerita yang disamarkan
Menulislah! Tulislah kisahmu, agar aku bisa membaca semua tentangmu
Jangan biarkan aku mati membawa kisah yang belum usai
Tolong aku untuk menyimpulkan semua ini
Biar aku paham membawa diri

Sebelum kusudahi suara hati
Ingin kuulang sabda Tereliye, cinta itu melepaskan
Apakah kau mengamalkan sabdanya?
Jika iya, kau umatnya

Wahai anak manusia…
Aku tidak bersabda seperti Tereliye, mewasiatkan melepaskan cintamu
Cinta itu harus diperjuangkan, dengan segala apa yang kau punya
Melepaskan adalah ciri-ciri manusia pengecut, tidak berani mengambil risiko
Tuhan hanya memberi pada orang yang memintanya dengan serius, bukan bermalas-malasan, berharap cinta itu datang sendiri padamu
Melepaskan adalah orang yang tidak mau menanggung beban.

Yogyakarta, 21 Maret 2019 

Bintang Inspirasi
0 Komentar untuk "Sabda Tereliye "

Back To Top