Setelah Tamat Kuliah Mau Ngapain? - Berita Feature Generasi Muda

Setelah Tamat Kuliah Mau Ngapain?

Setelah tamat kuliah kaum mahasiswa akan berbondong-bondong menyerbu perusahaan. Tujuannya hanya satu, yaitu mengemis kepada bos besar agar bisa bekerja di perusahaan yang dipimpinnya. Biasanya bekerja memang menjadi prioritas utama bagi eks. mahasiswa untuk mendapatkan uang. Mungkin merasa tidak enak sudah banyak mengeluarkan keuangan keluarga yang sampai puluhan juta, atau ratusan juta. Terlebih lagi tipe orangtua yang menuntut anaknya untuk cepat-cepat berbalas budi. Balas budi di sini diukur dengan uang. Semakin banyak jumlah uang yang diterima orangtua dari anakanya, maka dianggap semakin tinggi pula pengabdian anaknya. 

Sialnya, mencari kerja zaman now tidak semudah membalikkan telapak tangan, atau cuma bermodal tampang cantik atau tampan ala artis drakor (drama Korea). Perusahaan berwatak kapitalis menginginkan segala apa yang dimiliki si calon buruh atau buruh itu, mulai dari kecerdasannya, keelokannya, waktunya, loyalitasnya, dan segala-galanya yang dimiliki oleh buruh. Bahkan sampai-sampai organ intim pun dipertaruhkan demi bisa bekerja, lihat saja kasus-kasus peramugari mas kapai penerbangan. Bisa terbang, kalau si pramugari bisa melayani nafsu binatang si bos. 

Dan sampai detik ini sistem pendidikan kita memang sengaja melahirkan tenaga-tenaga baru yang dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan perusahaan. Bodohnya, hanya segelintir mahasiswa yang sadar bahwa dirinya saat kuliah dipersiapkan dari persekongkolan itu. Ruang demokrasi di kampus juga sudah sangat memperihatinkan, beberapa aturan di salah satu universitas negeri Yogyakarta melarang mahasiswa untuk berdemonstrasi di kampus. Jika mengabaikan aturan tersebut mahasiswa harus siap dikeluarkan oleh birokrat kampus sialan itu. 

Ilustrasi eks. mahasiswa | Pinterest.com
Lain lagi dengan dosen berwatak feodal, dosen tipe yang beginian, semua pernyataannya maha benar dengan segala ocehannya di dalam kelas. Terkadang sudah melebihi para Rasul, bahkan Tuhan sekalipun. Tidak boleh diintrupsi, tidak boleh dikritik, apalagi dibantah. Berani macam-macam, nilai menjadi taruhannya, siap-siap dapat nilai C. Tapi ada juga mahasiswa bermental platinum, dodoh amat dengan segala kefeodalannya, kebenaran dan demokrasi lebih utama. Bantah membantah memang harus digalakkan di dalam kelas meskipun harus menelan pil pahit, IP (indeks prestasi) rendah. 

Dasar kampus mata duitan, setelah nilai anjlok, bisa SP (Semester Pendek) yang hanya menyodorkan beberapa rupiah, atau membeli buku. Nilai pun kembali dinormalisasikan. Pendidikan seperti apa ini coba? Yang pastinya, mahasiswa yang tidak mau belajar di luar kelas, hanya menerima pendidikan di kampus, mungkin bisa diprediksi mereka akan menjadi kaum yang tertindas, dan penjilat. Karena proses mereka belajar memang demikian, hanya mengejar IPK dan mencari muka pada para birokrat kampus dan para dosen bedebah itu. 

Nah, setelah tamat kuliah maua ngapain? Tentu saja berburu lowongan pekerjaan. Kalau otaknya sedikit cerdas akan berlomba-lomba ikut seleksi Pegawai Negeri Sipil. Menjadi PNS (Pegawai Negeri Sipil) adalah salah satu jalan selamat untuk menopang hidup di negeri antah berantah bin durjana negeri kita ini. Sogok-menyogok pun dihalalkan, asal bisa menyimpan rahasia. Sssttt… hanya kita yang tahu. Si otak dungu tadi pun akhirnya bisa menjadi PNS yang pada kemudian hari bekerja tidak becus, korupsi waktu, gemar nepotisme, korupsi di sana-sini, jilat atas dan menindas bawahan. Generasi terus tumbuh dengan sistem pemerintahan tak becus. 

Lalu sebaiknya bagaimana? Oke, itu adalah pertanyaan sadar yang terbangun pada otak kritis kita. Mahasiswa yang baru tamat tadi sebaiknya harus bisa menciptakan ekonomi mandiri melibatkan teman-temannya, warga, dan siapa saja yang ingin bergabung di dalamnya. Semata-mata ekonomi mandiri itu dilahirkan bukan untuk mencari keuntungan seperti perusahaan yang mengeksplotasi sumber daya manusia dan sumber daya alam, tapi hanya menopang kehidupanadalam perjuangan yang sesungguhnya. Maksudnya ialah perjuangan untuk menegakkan sistem yang diharapkan oleh kaum tertindas. Artinya sistem yang bisa mewujudkan kesejahteraan bersama. Bukan seperti yang selama ini kita lihat, hanya para pemodal yang kaya raya, sementara buruhnya setengah mati dalam kesehariannya. Tenaganya diperas, pikirannya diusik terus menerus, dan waktunya disita. Semua itu dilakukan hanya untuk keuntungan para pemodal. 

Ekonomi mandiri bisa di sektor pertanian, sektor peternakan, sektor perdagangan, dan lain-lain yang bisa menumbuhkan perekonomian bersama. Hasil dari keuntungan bisa dibagi secara merata, tanpa harus mengenal istilah pangkat, jabatan, atau orang yang paling berpengaruh di dalam ekonomi mandiri tersebut. Memang tidak mudah untuk dilaksankan, tapi kalau kita sadar bahwasanya ekonomi mandiri itu adalah kepemilikan bersama maka bisa dijamin setiap yang tergabung di dalamnya akan memiliki semangat bekerja yang luar biasa. 

Terlebih lagi di sektor pertanian, mengingat tanah Indonesia sangat berpotensi menanam berbagai macam tumbuhan. Selain itu tanah merupakan faktor utama dalam proses produksi. Itu juga kenapa perusahaan dan pemerintahan acap kali merampas lahan warga dengan dalih pembangunan untuk kepentingan umum. Dan seolah-olah dua badan itu bak dewa yang memberikan kehidupan warga dengan cara licik, yakni membuka lapangan pekerjaaan. Padahal warga yang ada di desa tidak butuh lapangan pekerjaan, karena mereka sendiri punya lahan yang bisa digarap untuk menanam apa saja. Hasil panen itu bahkan sangat menyejahterakan kehidupan mereka. 

Jadi sudahi dusta-dusta membuka lapangan pekerjaan. Masyarakat mulai paham bahwasanya pengadaan tanah bagi perusahaan untuk kepentingan pemodal terus disuarakan agar tanah mereka tidak menjadi korban berikutnya. Dengan terjunnya eks. mahasiswa yang paham sistem kapitalis tadi, selain untuk membangun ekonomi mandiri bersama warga, juga sebagai pengawal dan gardu terdepan untuk menghalang para perampok tanah. Harapan kita tentunya mahasiswa setelah tamat kuliah meski kembali lagi ke rakyat. 

Jangan malah menjadi penindas rakyat dengan cara masuk ke sistem pemerintahan dan perusahaan. Dan boleh dibilang sebenar-benarnya perjuangan itu bukan hanya saat menjadi aktivis mahasiswa saja, tetapi pasca mahasiswa juga tetap berjuang di garis-garis perjuangan rakyat. Jangan tiru pula aktivis melempam saat keluar dari kampus. Setelah tamat kuliah, berbeda pula paradigm perjuangannya. [Klickberita.com/Asmara Dewo]



0 Komentar untuk "Setelah Tamat Kuliah Mau Ngapain?"

Back To Top