Perburuan Malam: Gua Jepang Yogyakarta - Berita Feature Generasi Muda

Perburuan Malam: Gua Jepang Yogyakarta

Mengunjugi gua pada malam hari tentu memberikan kekayaan pengalaman yang luar biasa. Dan harus membekali diri dengan mental yang kuat, sehingga misi yang dituju sesuai yang diharapkan.

Sebagaimana para pemuda alias si pemburu malam ketika itu bertekad bertualang ke Gua Jepang Sentonorejo Jogotirto, yang beralamat di Dusun Sentonorejo, Desa Jogotirto, Kec. Berbah, Kab. Sleman, D.I. Yogyakarta.

Hanya bermodal senter dan rekaman video dari hape, Bayu Anggari, Wisnu Latoke, dan Jonio Idham Pamungkas memulai petualangannya. Sebelum menjejakkan kakinya, mereka berdoa terlebih dahulu di mulut gua yang bercahayakan bulan redup.

“Tujuan penting kami ke gua untuk mengetahui sejarah Indonesia pada masa penjajahan. Mengetahui jejak peninggalan tentara Jepang ketika berperang melawan tentara sekutu,” kata Bayu menjelaskan tujuannya, Senin, 19 Agustus 2019.

Saat berburu malam di Gua Jepang | Doc. Perburuan Malam

“Pertama masuk gua masih ragu. Keraguan itu berangkat dari rasa ketakutan, karena pada saat itu malam hari. Masih takut dengan hal-hal yang bersifat mistis. Dan juga khawatir dengan sisa-sisa peralatan perang, seperti ranjau, bom, dan lain sebagainya,” ujar Bayu menceritakan pengalamannya.

Bayu menuturkan ketakutannya terhadap warga, sebab mereka datang pada waktu yang tidak tepat, “Secara umum tempat ini dikunjungi ketika pagi sampai sore hari. Karena kami rasa kurang greget, maka kami mengunjugi gua ini pada tengah malam. Dengan maksud merasakan sensasi anti mainstream. Kami juga penasaran hal-hal yang berbau mistis, harapannya bisa berjumpa dengan mahkluk yang berbeda.”

“Gua ini terletak di pemukiman warga. Di sana sudah dibuat plang yang bertuliskan cagar budaya. Yang mana tempat ini sudah dilindungi oleh pemerintah. Tentunya dilarang keras merusak, bahkan sampai mengubah bentuk gua tersebut. Gua ini kira-kira tingginya sekitar 10 meter, sedangkan lebarnya 20 meter. Di atas gua tumbuhan yang sangat rimbun, dan bagian depan gua terdapat halaman yang cukup luas,” terang Bayu menggambarkan bentuk gua.

“Gua itu memiliki tiga pintu masuk. Ketika masuk ke dalam terdapat terowongan yang panjang. Kira-kira panjangnya 50 meter dengan berbentuk cerobong. Sedangkan ttinggi terowongan itu berkisar 2 meter. Pada dinding-dinding gua tersebut dibuat oleh manusia tapi dengan batu alam, karena teksturnya sangat alami. Saat terkena sinar senter dinding gua berkilau seperti bintang di langit yang berkelipan,” ujar Bayu lagi.

“Di dalam gua terasa sesak, mungkin karena udara yang minim. Jadi suasananya menjadi pengap. Dan ketika mengeluarkan suara, suara kita di sana menggema, seperti ada yang menyahut. Penghuni asli dari gua tersebut tak lain dan tak bukan adalah kampret (kelelawar). Sampai-sampai bau kotoran kampret menusuk hidung yang membuat perut menjadi mual ingin muntah. Benar saja waktu kami masuk ke gua sudah disambut puluhan kampret, seakan-akan mengimbau kami untuk keluar. Mungkin kami merasa sudah mengganggu tempat tinggal mereka.”
“Awalnya semua berjalan dengan lancar. Namun harapan hanya tinggal harapan, walaupun kami dalam satu tim, tapi kami merasa adat tim lain yang ikut bergaabung dengan ekspedisi kami. Apakah karena malam hari atau bagaimana? Kami semua merasa paranoid, seakan-akan ada sosok yang mengikuti kami dari belakang. Itu membuat kami hanya menatap ke depan, takut melihat ke belakang. Tugas kami hanya satu, yaitu melindungi satu sama lain. Berangkat dari kesepatakan dan komitmen yang kuat sebelum masuk ke gua, ada hal-hal yang harus kami pegang teguh, yakni: 1. Menjaga ucapan, 2. Menjaga tindakan, 3. Tenang dalam kondisi apapun, 4. Tidak boleh meninggalkan teman. Itulah nadzar kami. Yang paling penting adalah tak lupa di awal kami berdoa memohon perlindungan dan kelancaran ekspedisi ini.” kata Bayu sembari membagikan tips berkunjung ke tempat-tempang angker.

“Saat kami menelusuri gua dari satu lorong ke lorong lainnya, kami teriak histeris. Rasa takut, cemas, dan gemetaran, bahkan keringat dingin sampai bercucuran. Ternyata kami disambar oleh kelompok makhluk kampret. Namun setelah itu ada kejadian yang mengerikan, salah satu teman kami, yaitu cameraman melihat bayangan putih secara sekilas. Dan kondisi kami saat itu berada di ujung gua, yang membuat kami bingung mana jalan pintu ke luar. Kami terus berjalan menelusuri gua untuk melihat kondisi di dalamnya. Cahaya senter kami arahkan ke atas, bawah, bahkan ke setiap kawan untuk memastikan di antara kami tidak ada yang hilang,” kengerian saat bertualang diungkap Bayu.

“Di dalam gua tersebut juga ada yang tidak bisa kami sebutkan, yang jelas benda itu terbuat dari besi yang sudah berkarat, yang menjalar berbentuk persegi panjang. Kami curiga kalau benda itu bekas persenjataan tentara Jepang. Kami hanya bisa melihat, dan tak berani menyentuhnya.” tutur Bayu saat melihat ada benda yang unik di gua tersebut.

“Andai saja teman kami bisa membuka mata batinnya, mungkin saja dia bisa melihat sosok makhluk halus penghuni gua. Perawakannya besar, berbulu, matanya merah, bertanduk, dan seakan-akan telapak tangannya bisa memegang tubuh kami semua dalam satu genggaman. Ya, bisa jadi seperti genderuwo. Satu kuncinya, yaitu jika kita tidak mengganggu mereka, maka mereka tidak akan mengganggu kami,” papar Bayu.

Bayu mengakui ada kekeliruan dalam petualangan mereka. Kekeliruan itu soal izin mereka masuk ke gua.

“Sebenarnya ada satu kesalahan kami, yaitu di samping kami sudah meminta izin kepada warga untuk masuk, tapi imbauan warga untuk meminta izin pada juru kunci gua, yang rumahnya berada di sebelah gua jepang tersebut, tidak kami laksanakan. Alasannnya karena kami tidak mau mengganggu istirahatnya. Mengingat waktu sudah pukul 12:00 WIB. Dan akhinya kami nekat masuk, syukur saja tidak terjadi hal-hal yang buruk pada kami,” pungkas Bayu menutup kisahnya bertualang di gua peninggalan masa penjajahan tersebut. [Klickberita.com/Asmara Dewo]

Bisa lihat videonya di bawah ini: 

0 Komentar untuk "Perburuan Malam: Gua Jepang Yogyakarta "

Back To Top