Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Fisika Tak Lagi Sekadar Rumus, Tim PKM UNSRAT Kenalkan Alat Peraga Berbasis Sensor kepada Siswa SMAN 1 Tondano


Foto bersama Tim PKM Unsrat dengan para siswa dan tenaga pengajar | Dok. Istimewa

Tondano, Sulawesi Utara — Fisika tak selalu harus dimulai dari rumus di papan tulis. Di SMAN 1 Tondano, siswa diajak melihat fenomena fisika melalui angka yang muncul dari sebuah sensor.

Pengalaman itu hadir dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Sam Ratulangi (UNSRAT) bertema “Eksplorasi Fenomena Fisika melalui Teknologi Sensor”, pada 14 September 2026. Tim PKM memperkenalkan sekaligus mendemonstrasikan alat peraga praktikum berbasis sensor kepada para siswa.

Di hadapan siswa, tim memperagakan alat untuk mengukur medan magnet. Perangkat tersebut memadukan sensor magnet, mikrokontroler, dan layar LCD. Ketika kondisi eksperimen diubah, angka pada layar ikut berubah.

Foto bersama dengan para siswa SMAN 1 Tondao | Dok. Istimewa

Fenomena yang sebelumnya hadir sebagai teori dan persamaan di ruang kelas tiba-tiba mempunyai bentuk yang lebih sederhana: angka yang bergerak di layar.

“Melalui kegiatan ini, kami ingin siswa tidak hanya mempelajari fisika dari rumus, tetapi juga melihat secara langsung bagaimana suatu fenomena dapat diamati dan diukur menggunakan teknologi sensor,” kata Ketua Tim PKM UNSRAT, Megastin M. Lumembang, M.Si.

Sensor cahaya menjadi alat peraga berikutnya. Melalui demonstrasi tersebut, siswa diperkenalkan pada hubungan antara fenomena fisika, sensor, proses pengukuran, dan data yang dihasilkan.

“Sensor menjadi jembatan antara konsep fisika yang dipelajari di kelas dengan fenomena yang bisa mereka lihat secara langsung. Ketika angka pada layar berubah karena kondisi eksperimen berubah, siswa dapat melihat bahwa konsep fisika itu benar-benar bekerja,” ujar Megastin.

Seorang siswi antusias memperagakan alat sensor | Dok. Istimewa

Kegiatan berlangsung melalui penyampaian materi singkat, pengenalan alat, demonstrasi, pengamatan, dan diskusi. Siswa tidak hanya menyaksikan alat bekerja. Mereka juga mengajukan pertanyaan mengenai prinsip kerja sensor serta hubungannya dengan konsep fisika yang dipelajari di kelas.

Bagi tim PKM, penggunaan teknologi sensor bukan sekadar perkara memasang perangkat elektronik dan membaca angka pada layar. Ada proses belajar yang lebih panjang: mengamati, mengukur, membaca data, kemudian mencoba memahami fenomena.

“Kami ingin siswa terbiasa mengamati, mengukur, membaca data, kemudian mencoba memahami apa yang terjadi. Jadi fisika tidak berhenti pada kemampuan menghitung,” kata Megastin.

Pendekatan tersebut juga memberi pengalaman berbeda bagi siswa. Konsep yang sebelumnya mereka temui melalui buku, rumus, dan penjelasan guru kini dapat diamati melalui percobaan sederhana.

Ketua TIM PKM Unsrat Megastin M. Lumembang, M.Si. saat memberikan sosialisasi kepada para peserta | Dok. Istimewa

“Teknologi sensor membuat konsep yang selama ini kami pelajari secara teori menjadi lebih mudah dibayangkan karena kami bisa melihat hasil pengukurannya secara langsung,” ujar salah seorang siswa SMAN 1 Tondano.

Program tersebut dilaksanakan tim PKM UNSRAT yang diketuai Megastin M. Lumembang, M.Si., bersama Muh. Hasan Basri, M.Hum. dan Ernawatil Gani, M.Si.

Kegiatan itu juga melibatkan dosen dan mahasiswa Jurusan Fisika UNSRAT, yakni Luis Figo Alamona, Filipho Imanuel Julian Batubuaya, Nadya Federica Barauntu, Geraldy Pilat, Jorji Sumanti, Muh. Bintang Saputra, dan Deniko Dahrun.

Bagi mahasiswa yang terlibat, kegiatan tersebut bukan sekadar agenda pengabdian. Mereka memperoleh pengalaman menyiapkan perangkat, melakukan demonstrasi, menjelaskan konsep fisika, sekaligus berinteraksi langsung dengan siswa.

Tim PKM berharap alat peraga berbasis sensor dapat menjadi salah satu alternatif media pembelajaran fisika yang lebih kontekstual. Siswa diharapkan tidak berhenti pada kemampuan menghitung, tetapi juga terbiasa mengamati fenomena, melakukan pengukuran, membaca data, dan menarik pemahaman dari apa yang mereka lihat.

“Harapan kami, alat peraga seperti ini dapat menjadi salah satu alternatif media pembelajaran fisika yang sederhana, kontekstual, dan dekat dengan pengalaman siswa,” ujar Megastin.

Kegiatan tersebut sekaligus mempertemukan dua ruang pendidikan: perguruan tinggi dan sekolah. UNSRAT membawa pengetahuan dan teknologi, sedangkan sekolah menjadi ruang tempat pengetahuan itu diuji melalui pengalaman belajar siswa.


Tim PKM UNSRAT menyampaikan apresiasi kepada Kepala SMAN 1 Tondano, Amelda Sakul, S.Pd., M.Pd.; Wakasek Kurikulum, Koni Mawuntu, S.Pd.; Wakasek Kesiswaan, Verry Runtu, S.Pd., M.Si.; Hesky Billy Tololiu, S.Pd.; serta para guru SMAN 1 Tondano yang mendukung pelaksanaan kegiatan.

Foto bersama | Doc. Istimewa

Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Sam Ratulangi atas dukungan pendanaan sehingga program tersebut dapat terlaksana.

Pada akhirnya, fisika kembali pada pertanyaan yang sederhana: bagaimana alam bekerja?

Rumus membantu menjelaskannya. Sensor membantu membuatnya terlihat.

Fisika bukan hanya tentang menghitung. Ia juga tentang mengamati, mengukur, dan memahami.

 

 

Posting Komentar untuk "Fisika Tak Lagi Sekadar Rumus, Tim PKM UNSRAT Kenalkan Alat Peraga Berbasis Sensor kepada Siswa SMAN 1 Tondano"