Nepal van Java, Wisata Baru Magelang yang Viral - Berita Feature Generasi Muda

Nepal van Java, Wisata Baru Magelang yang Viral

Klickberita.com-“Nggak kuat ini motornya, turun-turun!” aku berseru kencang. Matic yang kami kendarai suaranya memelan. Tenaganya sudah tak kuat lagi. Dengan terpaksa Rizka melompat dari motor.

Mulai kutancap gas lagi, tanpa boncengan bisa. Kalau bawa tumpangan, nah, ini dia persoalannya. Wajah Rizka terlihat kesal menanjak cukup jauh. Berkali-kali ojek menawari untuk mengantarkannya sampai di tempat, Rizka terus menolak.

“Masih jauh, Mbak. Saya antar saja,” salah satu ojek menawarinya. Dia membuntuti terus sejak tadi.

Lagi-lagi Rizka menolak halus, kakinya terus melangkah. Dari kejauhan napasanya mulai tersengal. Tanda-tanda bendera putih akan berkibar.

Pengunjung di Nepal van Java | Foto asmarainjogja.id, Asmara Dewo
Pengunjung di Nepal van Java | Foto asmarainjogja.id, Asmara Dewo
Aku menunggunya, “Gimana? Naik ojek ajalah!”

“Kuat, kok,” sahut Rizka.

Baiklah. Karena kulihat dia memang letih, kami mencoba lagi. Mungkin kuda besi kali ini sanggup mengantarkan kami.

Dut… dut… dut… seperti suara mampet. Memang tidak bisa lagi dipaksa. Ojek dari atas menghampiri. Seperti ojek di bawah, menawarkan jasanya.

“Saya antar saja, Mbak. Masih jauh, lho. Satu tanjakan lagi setelah tikungan itu,” kata Mas Ojek.

Rizka tetap menolak.

Merasa tawarannya ditolak, si Mas Ojek pakai cara lain, “Kalau nggak, Mas bawa motor saya, biar saya bawa motornya Mas?” ucapanya tak mau menyerah. Mas Ojek itu pun terus membujuk kami.

Aku tahu dalam benak Rizka, pasti takut kena ongkos “palak”, karena ini memang daerah wisata. Bukan hal yang baru lagi bagi kami saat bertualang berjumpa warga setempat yang memanfaatkan kondisi.

“Maaf, Mas, dianya nggak mau.” Kini aku yang menolak halus. Diringi senyuman.

Motor kembali aku hidupkan. Beberapa menit kemudian memang sempat lancar, meskipun suara mesin hampir padam. Tanjakannya semakin tinggi. Sebelum berhenti motor kami di tengah tanjakan, Mas Ojek mendorong motor kami dengan kaki kirinya.

Ini orang, kok, sampai segitunya, ya, ucapku dalam hati.

“Gimana?” aku menoleh ke Rizka.

“Ya, udahlah. Berapa bayarnya?”

“Mas, berapa bayarnya sampai ke tempat?” tanyaku, motor kami terus berjalan.

“Terserah, Mas. Seikhlasnya,” jawab Mas Ojek.

Kami sepakat 10 ribu setelah berbisik-bisik dengan Rizka. Karena kalau dari Pos Pertama hanya 20 Ribu. Jadi berhubung setengah jalan lagi, kami pikir ini harga yang pantas dan manusiawi.

Pada tanjakan berikutnya, Rizka turun, lalu naik ke Mas Ojek.

Wah, baru bisa bernapas lega setelah motor bisa tancap gas sembari menatap pemandangan di sekitar. Jalan itu diapit perkebunan sayur. Beragam tumbuhan subur di sana, ada sawi, cabe, tomat, daun bawang, labu, bahkan tembakau. Dari atas ketinggian ini tampak pula perbukitan menjulang tinggi, sementara di hadapan kami adalah Gunung Sumbing berselimut kabut.

Akhirnya kami tiba di depan gapura pintu masuk objek wisata Nepal Van Java. Gapura ini juga sebagai pintu masuk pendaki ke Gunung Sumbing. Kulihat ramai kendaraan keluar masuk. parkiran motor juga cukup padat, padahal kami datang hari Senin.

Tadi di jalan saat bertanya ke warga, Minggu kemarin macetnya sampai satu kilometer. Bapak itu juga bilang sejak wisata ini masuk televisi berbagai wisatawan berkunjung ke Dusun Butuh. Ada dari Yogyakarta, Semarang, Magelang, dan daerah lainnya.

Sesuai janji, Rizka memberi Mas Ojek sepuluh ribu. Mas itu senang dan berterimakasih, lalu kembali turun.

Untuk tiket masuknya kami dikenakan delapan ribu rupiah termasuk ongkos parkir. Oh, ternyata motor bisa masuk sampai ke atas. Kami memasuki dusun yang disebut-sebut Nepal itu, karena aku belum pernah ke Nepal, sulit juga mengiyakannya. Tapi karena kulihat foto di Desa Nepal dari internet, oh, mirip juga.

Nepal van Java
Kaki Gunung Sumbing di Nepal van Java | Foto asmarainjogja.id, Asmara Dewo
Dusun Butuh, Desa Temanggung, Kec. Kaliangkrik, Kab. Magelang, Jawa Tengah, memang sedang viral. Kini dusun di kaki Gunung Sumbing itu ramai dikunjungi. Tak terkecuali kami yang tergoda dari postingan akun Instagram objek wisata di Yogyarta.

Geliat ekonomi warga tampaknya mulai terlihat, mereka membuka pasar sayuran di tepi jalan. Selain itu warga juga membuka warung-warung makanan. Belum lagi jasa-jasa lain, seperti jasa ojek dan jasa foto.

Karena perumahan warga itu di atas kaki gunung, jadi kita melihatnya seperti bertingkat-tingkat. Dan memang ada juga rumahnya dua lantai atau lebih. Aku perhatikan juga hampir setiap rumah saling berdempetan. Posisi seperti itu semakin elok dipandang dari kejauhan dengan latar Gunung Sumbing.

“Kita parkir di mana?”

“Di atas ajalah,” jawab Rizka.

Karena ada tanjakan tinggi lagi, terpaksa Rizka harus turun. Jalan dusun ini menuju ke atas cukup sempit dan banyak anak-anak bermain. Selain itu sering berpapasan dengan ibu-ibu yang menggendong karung yang berisi sayuran. Tak hanya ibu-ibu saja, tapi juga mbah-mbah juga tak kalah hebatnya.

Motor kami parkir di Masjid. Nah, di Masjid inilah salah satu spot pengunjung merekam panorama alam. Terlihat jelas lembah melekuk dan kaki gunung raksasa Sumbing. Alam hijau membentang luas, kabut tebal berarakan menutupi perkasanya si paku bumi.

Perkebenan sayur di Nepal van Java | Foto asmarainjogja.id, Asmara Dewo
Perkebunan sayur di Nepal van Java | Foto asmarainjogja.id, Asmara Dewo
Kami berjalan menelusuri dusun sampai berhenti di salah satu warung. Warung itu berada di rooftop. Aku perhatikan warung-warung di sana merenovasi rumahnya, kalau tidak bagian atasnya, ya, di berandanya meskipun hanya beberapa meter. Mungkin ini seperti upaya menyambut pengunjung sebagai pintu rezeki bagi mereka.

Kami duduk beralaskan terpal kain. Aku memesan kopi khas lokal. Meskipun cuma diguyur air panas dari termos, tapi rasanya cukup nikmat. Lidahku menyukainya. Menyesapi kopi sembari menatap pemandangan sekitar punya sensasi yang berbeda. Dan itu cukup berkesan. 

Kebun sayur warga tidak hanya di bawah saja, ternyata sampai jauh ke atas kaki gunung. Dari bawah aku melihat beberapa ibu yang mengendong sayur di punggungnya. Dari dusun, mungkin jaraknya sampai tiga kilometer. Cukup jauh. Tidak terbayangkan membawa beban seberat itu dari atas ke bawah.

Kami cukup lama duduk di sini, meskipun sesekali terik matahari terasa panas, angin pegunungan seakan menjadi penawarnya. [Asmara Dewo]

Artikel ini telah tayang di www.asmarainjogja.id dengan judul Nepal van Java Magelang, Wisata Baru yang Viral di Gunung Sumbing

Tonton juga videonya:



0 Komentar untuk "Nepal van Java, Wisata Baru Magelang yang Viral"

Back To Top