Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

20 Bukti Adanya Kerajaan Sriwijaya dari Peneliti Sejarah Bernard H.M Vlekke

Beberapa hari terakhir publik dikejutkan dengan pernyataan dari seorang budayawan, Ridwan Saidi. Budayawan yang biasa dipanggil Babe itu mengatakan bahwa Kerajaan Sriwijaya adalah fiktif. Pernyataan kontroversi yang menggegerkan netizen tersebut pertama kali diunggah di akun youtube Macan Idealis. Karena alasan itu pula ada pihak yang akan membawa persoalan sejarah tersebut ke ranah hukum.

Ada atau tidaknya Kerajaan Sriwijaya di tanah air Indonesia, tentu bukan suatu sikap yang elok membawa perbedaan versi sejarah ini ke ranah hukum. Sebaiknya hal-hal yang memiliki argumen dan data berbeda bisa diperdebatkan di forum diskusi ilmiah. Terlebih lagi ini menyangkut sejarah suatu wilayah, tentunya akan membuat warga di sana resah. Maka mau tak mau ada lembaga atau badan yang menjembatani diskusi ini yang ditayangkan secara live.

Tujuan ini semata-mata untuk mengedukasi masyarakat dalam menyikapi perbedaan sejarah. Karena jika tidak disikapi dengan bijak, ada kekhawatiran, kita selalu menyangkutpautkan setiap persoalan yang berbasis pengetahuan ke meja hijau. Biarkan setiap pendapat itu disampaikan dengan argumen dan data, maka jika merasa benar bantah pula dengan data-data yang valid.

Sejarah Kerajaan Sriwijaya
Candi Muara Takus, diyakini peninggalan Kerajaan Sriwijaya | Doc. Perpustakaan.id
Nah, menurut Bernard H.M. Vlekke dalam bukunya Nusantara, Sejarah Indonesia, ia mengulas bagaimana Kerajaan Sriwijaya berkuasa di Sumatera. Dalam buku sejarah itu pula, ia menguaraikan bagaimana kekuasaan kerajaan yang menganut Buddha itu menginvasi ke wilayah lain. Bahkan sampai Sriwijaya mulai menghilang dari catatan sejara.

Berikut beberap poin penting dalam buku tersebut:

1. Sumber-sumber kita untuk sejarah Jawa pada abad ke-10 jarang. Kesulitan ini lebih besar lagi bila berpaling ke Sumatera dan kerajaannya yang terkenal, Sriwijaya. Di sini kita harus menoleh ke China, dan sesudahnya ke India dan Arabia untuk memperoleh informasi.

2. Sudah kita katakan bahwa setelah pemisahan yang kita anggap terjadi atas kerajaan “pembasmi musuh-musuhnya” (sebelum 900), dinasti Shailendra terus memerintah di Sriwijaya.

3. Salah satu raja pertama Sumatera dari keluarga kerajaan mendirikan suatu institusi “universitas” Buddhis di Nalanda di Benggala (sekitar 850-860). Jelas, Sriwijaya tetap setiap pada Budhhisme Mahayana, yang mungkin menjadi salah satu sebab ia punya hubungan lebih sering dengan dunia luar.

4. Bukti yang lebih nyata akan pentingya “hubungan internasional” dalam sejarah Sumatera adalah lokasi geografis pulau itu yang membuat penguasa-penguasanya lebih mudah menarik pajak dari arus kecil perdagangan yang mengalir antara India dan China.

5. Shailendra di Sumatera adalah raja-raja pelaut dan mereka berhasil menaklukkan pantai-pantai semenanjung Malaya ke bawah kekuasaan mereka, tapi jarangnya informasi yang dapat diandalkan tentang kegiatan ekonomi dan militer mereka membuat fitrah dan cakupan “kerajaan kelautan” dari masa awal Indonesia ini kabur.

6. Ada sedikit acuan terhadap Sriwijaya dalam tawarikh imperial China dan bahwa beberapa rajanya telah mencatatkan nama mereka dengan bahasa berbunga-bunga di atas batu.

7. Refrensi dari China sebagian besar berasal dari 960 atau lebih kemudian. Ini tidak lantas berarti bahwa kerajaan Sumatera tidak berkunjung ke China sebelum tahun itu, karena ketiadaan data mungkin disebabkan kekacauaan besar yang terjadi di China pada pertaruhan pertama abad itu akibat invasi Mongol.

8. Kita tahu kaisar pertama dinasti Sung (960-1279) memulihkan ketertiban di seluruh negerinya, dan bahwa dia membuka kembali pelabuhan di Kanton untuk perdagangan luar negeri. Segera sesudahnya tawarikh mencatat “duta-duta” Indonesia, sembilan di antaranya datang dari Sriwijaya, sementera dua lagi dari Jawa dan Bali.

9. Kita cukup yakin bahwa mereka membawa barang dagangan untuk dipertukarkan dengan produk China, dan di antara barang dagangan Sumatera, cula badak disukai di China karena dianggap punya kualitas pengobatan, mungkin adalah yang paling berharga.

10. Selain catatan di China, ada beberapa refrensi mengenai Sumatera dalam cerita dari saudagar dan ahli geografi Arab dan Persia. Refrensi-refrensi ini paling tidak, jelas dibuat karena minat terhadap perdagangan dan perniagaan. Produk-produk Sriwijaya didaftarkan: timah, emas, gading, rempah-rempah, kayu berharga, dan kamper. Bahkan beo dari Sumatera punya reputasi sebagai burung sangat cerdas. Seorang penulis Arabia (Ibnu Fakil) dari abad ke-10 mencatat dengan sangat serius bahwa burung-burung itu sanggup bicara bahasa Arab, Persia, Yunani, dan Hindustani.

11. Tahun 992 muncul unsur baru dalam catatan China. Duta-duta datang baik dari Jawa maupun Sriwijaya. Duta dari Sumatera yang tela meninggalkan Kanton pada musim semi tahun itu tiba-tiba kemabli lagi: ketika tiba di Pantai Champa (Vietnam bagian selatan) dia diberitahu bahwa negerinya sedang diserbu oleh Jawa.

12. Menurut Krom dan pakar-pakar sejarah Jawa yang lebih tua, seorang raja yang berani dari Jawa Timur, bernama Dharmawangsa, memulai suatu program penaklukan yang ambisius. Dia menaklukkan Bali, dan sebagai seorang “imperialis” sejati bahkan sebelum istilah itu diciptakan (avant la letrre), merencanakan penghancuran Sriwijaya serta mengangkat diri menjadi penguasa seluruh Kepulauan Indonesia. Dia mengalahkan kekuatan kelautan Sumatera dan menyerbu negeri mereka.

13. Pembalasan Sriwijaya tidak tanggung-tanggung. Dikatakan bahwa Sumatera mengejar musuh-musuh mereka sampai ke Jawa bagian timur, di mana mereka menghancurkan keraton, trempat tinggal keluarga istana, dan membunuh rajanya. “Seluruh Pulau Jawa (menurut teks kuno) ketika itu seperti ‘lautan’ (bencana) atau menurut terjemahan lain, ‘seperti laut purba.”

14. Perang Jawa-Suamatera dan bencana besar terjadi sekitar tahun 1000. Jawa mengalami satu periode kekacauan di seputar pergantian abad, dan bahwa pada saat yang sama, Kerajaan Sriwijaya di Sumatera menjadi makmur.

15. Satu sumber Tibet menyebutkan bahwa Athisa, reformator besar Buddhisme di Tibet, pergi belajar selama 12 tahun (1011-1012) di Ibukota Sriwijaya di tepi Sungai Musi. Duta-duta Sriwijaya secara teratur mengunjungi Kanton tempat mereka meminta lonceng-lonceng untuk candi yang dibangun raja mereka di negeri mereka. Dan kata mereka di situ rakyat mereka berdoa agar kaisar China diberi umur panjang.

16. Pada tahun 1005, seorang raja Sriwijaya menyuruh bangun sebuah candi di Negapatnam di wilayah penguasa Chola yang kuat di India.

17. Sekalipun kerajaan Jawa Timur pertama benar-benar disebabkan serangan oleh Sumatera, raja-raja Sriwijaya tidak lama menikmati kemenenagan mereka. Seorang Raja India dengan tekad menjarah dan menaklukkan, tiba-tiba muncul dengan armada kuat di Sungai Musi, merebut kota itu, menangkap rajanya dan membawa pergi harta bendanya.

18. Dengan gerak cepat ke utara, para penyerbu menaklukkan Malayu, dan dari sana berlayar ke Semenanjung, di mana rasa takut luar biasa membuat negara-negara bawajan Sriwijaya langsung bertekuk lutut tanpa memberikan perlawanan berarti.

19. Raja yang pada tahun 1025 melancarkan pukulan dahsyat ini tiada lain adalah Rajindracola, penguasa kerajaan di pantai Coramandel, yang hubungannya dengan Sriwijaya sangat bersahabat sampai sesaat sebelum serbuan itu.

20. Sumber-sumber China dan lain-lain membuktikan bahwa Kerajaan Sriwijaya sama sekali tidak hancur. Ia terus menjadi pusat Buddhis yang penting. Duta-dutanya mengunjungi China pada tahun 1028. Duta-duta yang di hari kemudian berkunjung kepada Kaisar dicatat pada tahun-tahun 1078-1079. Hubungan baik Sriwijaya dengan Coromandel pasti telah pulih kembali. Tapi bahwa negara Sumatera pelan-pelan melemah dapat disimpulkan dari makin jarangnya prasasti dan tawarikh China. [Klickberita.com/Asmara Dewo]

Baca juga: 
Tiga Warisan Qinshihuang yang Membuat China Hebat sampai Sekarang 
Persamaan Qinshihuang dan Soeharto
Kisah Cinta Sejati di Tembok Besar China


Posting Komentar untuk "20 Bukti Adanya Kerajaan Sriwijaya dari Peneliti Sejarah Bernard H.M Vlekke"